Arena Belajar

INFO KKM MTSN 3 MOJOKERTO

 

Nich .. buat belajar buat tugas dll… siapa saja silahkan dicopy…

Okey …..

Spiritual dan Rahasia Haji: Dalam dialog seorang sufi besar dengan
Keluarga Nabi saw.

Dialog ini terjadi antara Imam Ali Zainal Abidin (sa) dengan
Asy-Syibli. Asy-Syibli adalah seorang ulama sufi besar dan terkenal
hingga sekarang, khususnya di kalangan para sufi. Imam Ali Zainal
Abidin (sa) adalah putera Al-Husein cucu Rasulullah saw. Dialog ini
saya terjemahkan dari kitab Al-Mustadrak. Berikut ini dialognya:

Saat pulang ke Madinah usai menunaikan ibadah haji, Asy-Syibli datang
kepada gurunya Ali Zainal Abidin (ra) untuk menyampaikan pengalamannya
selama menunaikan ibadah haji. Dalam pertemuan itu terjadilah dialog
antara seorang guru dengan muridnya.

Ali Zainal Abidin (sa): Wahai Syibli, Anda sudah menunaikan ibadah haji?
Asy-Syibli: Ya, sudah yabna Rasulillah (wahai putra Rasulillah)
Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah berhenti miqat, kemudian
menanggalkan semua pakaian terjahit yang dilarang bagi orang yang
menunaikan ibadah haji, kemudian Anda mandi sunnah untuk memakai baju
ihram?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah ketika berhenti di miqat Anda
menguatkan niat, dan menanggalkan semua pakaian maksiat kemudian
menggantinya dengan pakaian ketaatan?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat Anda menanggalkan pakaian yang
terlarang itu apakah Anda sudah menghilangkan perasaan riya’, munafik,
dan semua subhat (yang diragukan hukumnya).
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mandi sunnah dan membersihkan diri
sebelum memakai pakaian ihram, apakah Anda juga berniat membersihkan
diri dari segala macam noda-noda dosa?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum berhenti miqat,
belum menanggalkan pakaian yang yang terjahit, dan belum mandi
membersihkan diri.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mandi, berihram dan mengucapkan
niat untuk memasuki ibadah haji, apakah Anda sudah menguatkan niat dan
tekad hendak membersihkan diri dan mensusikannya dengan pancaran
cahaya taubat dengan niat yang tulus karena Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah pada saat memakai baju ihram Anda
berniat untuk menjauhkan diri dari segala yang diharamkan oleh Allah
Azza wa Jalla.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (ra): Apakah ketika berada dalam ibadah haji yang
terikat dengan ketentuan-ketentuan haji, Anda telah melepaskan diri
dari segala ikatan duniawi dan hanya mengikatkan diri dengan Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum membersihkan diri,
belum berihram, dan belum mengikat diri Anda dalam menunaikan ibadah haji.
Ali Zainal Abidin (sa): Bukankah Anda telah memasuki miqat, shalat
ihram dua rakaat, kemudian mengucapkan talbiyah?
Asy-Syibli: Ya, semua itu sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika memasuki miqat apakah Anda berniat akan
melakukan ziarah untuk mencari ridha Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat melaksanakan shalat ihram dua
rakaat, apakah Anda berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt
dengan tekad akan memperbanyak shalat sunnah yang sangat tinggi nilainya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memasuki miqat,
belum mengucapkan talbiyah, dan belum menunaikan shalat ihram dua rakaat.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda telah memasuki Masjidil Haram,
memandang Ka’bah dan melakukan shalat disana?
Asy-Syibli: Ya, semua sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat memasuki Masjidil Haram, apakah Anda
bertekad untuk mengharamkan diri Anda dari mengunjing orang-orang islam?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika sampai di kota Mekkah, apakah Anda
menguatkan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tujuan hidup?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memasuki Masjidil
Haram, belum memandang Ka’bah, dan belum melakukan shalat di dekat Ka’bah.
Asy-Syibli:

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah melakukan thawaf, dan sudah
menyentuh sudut-sudut Ka’bah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukan thawaf.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika thawaf, apakah Anda berniat untuk lari
menuju ridha Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum melakukan thawaf,
dan belum menyentuh sudut-sudut Ka’bah.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah berjabatan tangan dengan
hajar Aswad, dan melakukan shalat sunnah di dekat Maqam Ibrahim?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Mendengar jawaban Asy-Syibli, Ali Zainal
Abidin (ra) menangis dan memandangnya seraya berkata:
“Ya sungguh benar, barangsiapa yang berjabatan tangan dengan Hajar
Aswad, ia telah berjabatan tangan dengan Allah. Karena itu, ingatlah
baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali kalian berbuat sesuatu
yang menghinakan martabatmu, jangan menjatuhkan kehormatanmu dengan
perbuatan durhaka dan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla, jangan
melakukan apa saja yang diharamkan oleh Allah swt sebagaimana yang
dilakukan orang-orang yang bergelimang dosa.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berdiri di Maqam Ibrahim, apakah Anda
menguatkan tekad untuk berdiri di jalan kebenaran dan ketaatan kepada
Allah swt, dan bertekad untuk meninggalkan semua maksiat?
Asy-Syibli: Tidak, saat itu tekad tersebut belum kusebutkan dalam niatku.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melakukan shalat dua rakaat di dekat
Maqam Ibrahim, apakah Anda berniat untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim
(sa), dalam shalat ibadahnya, dan kegigihannya dalam menentang
bisikansetan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum berjabatan tangan
dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim, dan belum
melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah memperhatikan sumur air
Zamzam dan minum airnya?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika memperhatikan sumur itu, apakah Anda
mencurahkan semua perhatian untuk mematuhi semua perintah Allah. Dan
apakah saat itu Anda berniat untuk memejamkan mata dari segala
kemaksiatan.
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum memperhatikan sumur
air Zamzam dan belum minum air Zamzam.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah saat itu Anda mencurahkan semua harapan
untuk memperoleh rahmat Allah, dan bergetar tubuhmu karena takut akan
siksaan-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum melakukan sa’i antara
Shafa dan Marwa.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah pergi ke Mina?
Asy-Syibli: Ya, tentu sudah.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah saat itu Anda telah sunggu-sungguh
bertekad agar semua manusia aman dari gangguan lidah, hati dan tangan
Anda sendiri?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum pergi ke Mina.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda sudah wuquf di padang Arafah?
Sudahkah Anda mendaki Jabal Rahmah? Apakah Anda sudah mengunjungi
lembah Namirah dan berdoa di di bukit-bukit Shakharat?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di Padang Arafah, apakah Anda
benar-benar menghayati makrifat akan keagungan Allah? Dan apakah Anda
menyadari hakekat ilmu yang dapat mengantarkan diri Anda kepada-Nya?
Apakah saat itu Anda menyadari dengan sesungguhnya bahwa Allah Maha
Mengetahui segala perbuatan, perasaan dan suara nurani?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika mendaki Jabal Rahmah, apakah Anda tulus
ikhlas mengharapkan rahmat Allah untuk setiap mukmin, dan mengharapkan
bimbingan untuk setiap muslim?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di lembah Namirah apakah Anda
punya tekad untuk tidak menyuruh orang lain berbuat baik sebelum
terlebih dahulu Anda menyuruh diri Anda berbuat baik? Apakah Anda
bertekad tidak melarang orang lain berbuat maksiat sebelum Anda
mencegah diri Anda dari perbuatan tersebut?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda berada di bukit-bukit itu, apakah
Anda benar-benar menyadari bahwa tempat itu merupakan saksi atas
segala kepatuhan kepada Allah swt. Dan Tahukah Anda bahwa bukit-bukit
itu bersama para malaikat mencatatnya atas perintah Allah Penguasa
tujuh langit dan bumi?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu Anda belum berwuquf di Arafah,
belum mendaki Jabal Rahmah, belum mengunjungi lembah Namirah dan belum
berdoa di tempat-tempat itu.

Ali Zainal Abidin (sa): Apakah Anda melewati dua bukit Al-Alamain dan
menunaikan shalat dua rakaat sebelumnya? Apakah setelah itu Anda
melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah, mengambil batu di sana,
kemudian berjalan melewati Masy’aril Haram?
Asy-Syibli: Ya, semuanya sudah saya lakukan.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda melakukan shalat dua rakaat,
apakah Anda meniatkan shalat itu sebagai shalat Syukur, shalat untuk
menyampaikan rasa terima kasih pada malam tanggal 10 Dzulhijjah,
dengan harapan agar tersingkir dari semua kesulitan dan mendapat
kemudahan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melewati dua bukit itu dengan
meluruskan pandangan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, apakah Anda
benar-benar bertekad tidak akan berpaling pada agama lain, tetap teguh
dalam agama Islam, agama yang hak yang diridhai oleh Allah swt?
Benarkah Anda memperkuat tekad untuk tidak bergeser sedikitpun, baik
dalam hati, ucapan, gerakan maupun perbuatan?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika berada di Muzdalifah dan mengambil batu
di sana, apakah Anda benar-benar bertekah untuk melempar jauh-jauh
segala perbuatan maksiat dari diri Anda, dan berniat untuk mengejar
ilmu dan amal yang diridhai oleh Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat Anda melewati Masy’aril Haram,
apakah Anda bertekad untuk menjadikan diri Anda sebagai keteladan
kesucian agama Islam seperti orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Kalau begitu, Anda belum melewati Al-Alamain,
belum melakukan shalat dua rakaat, belum berjalan menuju Muzdalifah,
belum mengambil batu di tempat itu, dan belum melewati Masy’aril Haram.

Ali Zainal Abidin (sa): Wahai Syibli, apakah Anda telah sampai di
Mina, telah melempar Jumrah, telah mencukur rambut, telah menyembelih
binatang kurban, telah menunaikan shalat di masjid Khaif; kemudian
kembali ke Mekkah dan melakukan thawaf ifadhah?
Asy-Syibli: Ya, saya sudah melakukannya.

Ali Zainal Abidin (ra): Setelah tiba di Mina, apakah Anda menyadari
bahwa Anda telah sampai pada tujuan, dan bahwa Allah telah memenuhi
semua hajat Anda?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Pada saat melempar Jumrah, apakah Anda
bertekad untuk melempar musuh Anda yang sebenarnya yaitu iblis dan
memeranginya dengan cara menyempurnakan ibadah haji yang mulia itu?
Asy-Syibli: Tidak

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda mencukur rambut, apakah Anda
bertekad untuk mencukur semua kehinaan diri Anda sehingga diri Anda
menjadi suci seperti baru lahir perut ibu Anda?
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika melakukan shalat di masjid Khaif,
apakah Anda benar-benar bertekad untuk tidak merasa takut kepada
siapaun kecuali kepada Allah swt dan dosa-dosa yang telah Anda lakukan.
Asy-Syibli: Tidak.
Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda menyembelih binatang kurban,
apakah Anda bertekad untuk memotong belenggu kerakusan diri Anda dan
menghayati kehidupan yang suci dari segala noda dan dosa? Dan apakah
Anda juga bertekad untuk mengikuti jejak nabi Ibrahim (sa) yang rela
melaksanakan perintah Allah sekalipun harus memotong leher puteranya
yang dicintai?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Ketika Anda kembali ke Mekkah untuk melakukan
thawaf ifadhah, apakah Anda berniat untuk tidak mengharapkan pemberian
dari siapapun kecuali dari karunia Allah, tetap patuh kepada-Nya,
mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri
kepada-Nya?
Asy-Syibli: Tidak.

Ali Zainal Abidin (sa): Jika demikian, Anda belum mencapai Mina, belum
melempar Jumrah, belum mencukur rambut, belum menyembelih kurban,
belum melaksanakan manasik, belum melaksanakan shalat di masjid Khaif,
belum melakukan thawaf ifadhah, dan belum mendekatkan diri kepada
Allah swt. Karena itu, kembalilah ke Mekkah, sebab Anda sesungguhnya
belum menunaikan ibadah haji.

Mendengar penjelasan Ali Zainal Abidin (sa), Asy-Syibli menangis dan
menyesali kekurangannya yang telah dilakukan dalam ibadah haji. Sejak
itu ia berusaha keras memperdalam ilmu Islam agar pada tahun
berikutnya ia dapat menunaikan ibadah haji secara sempurna.
(Al-Mustadrak 10: 166)

Wassalam
Syamsuri Rifai

Pesantren Alam Maya
Macam2 shalat sunnah, doa-doa pilihan, dan artikel2 Islami:
http://syamsuri149.wordpress.com

PROKLAMASI KEMERDEKAAN

dan

TERBENTUKNYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Kemerdekaan dari belenggu penjajahan adalah tujuan perjuangan semua unsur pergerakan kebangsaan sejak awal abad ke-20. Kemerdekaan bangsa Indonesia ditandai oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dicanangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta mengatasnamakan seluruh bangsa. Sejak 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memiliki kedaulatan, bebas dari belenggu kolonialisme, sejak itu pula berdirilah sebuah negara yang berencana negara Indonesia. Kelengkapan-kelengkapan sebagai sebuah negara diadakan setelah proklamasi.

A.PERBEDAAN ANTAR KELOMPOK SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN

Sejak Maret 1942 negeri kita di jajah oleh Jepang, Belanda. Belanda yang semula menjajah kita menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Penjajahan yang dilakukan Jepang pada Indonesia merupakan bagian dari Perang Dunia II antar sekutu ( AS, Eropa Barat dan Australia) dan Poros Jepang Jerman (ditambah Itali).

Setelah kemenangan demi kemenangan pada awal PD II sampai pertengahan tahun 1944, Jepang mengalami kekalahan-kekalahan pada akhir tahun 1944 dan awal 1945. Kedudukan Jepang di kawasan Asia Pasifik sudah tampak lemah. Bahkan tentara Sekutu mulai menyerang sasaran-sasaran langsung di Jepang.

Kekalahan demi kekalahan di berbagai medan pertempuran tersebut menyebabkan Jepang tidak lagi memikirkan untuk mempertahankan wilayah penduduknya. Pada akhir bulanJuni 1945, Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang mengadakan pertempuran di Singapura guna merencanakan pengalihan kekuasaan ke tangan bangsa Indonesia. Pada tanggal 1 maret 1945 pemerintah Jepang membentuk BPUPKI yang diketuai oleh Dr. Rajiman Wediodiningrat. Pada tanggal 7 Agustus 1945 Jendral Therauchi sebagai tentara tertinggi tentara Jepang di Asia tenggara yang berkedudukan di darat (Vietnam Selatan) mengumumkan terbentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Inkai) yang disingkat PPKI, diketuai oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moch. Hatta sebagai wakil ketua dengan anggota antara lain Dr. Rajiman Wediodiningrat, Mr. Supomp, Purboyo, Wahid Hasyim, Dr. Moch. Amir, Moch. Hasan, Latu Narhary, I Gusti Ketut Puja, AA. Maramis, Otto Iskandardinata, Abdul Kadir, RP. Suroso Sutarjo, Suryohamidoyo, Ki Bagus Hadi Kusuma, Abdul Abbas, Wiranata Kusuma, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman, Singodimejo, Sayuti Melik, Mr. Iwa Kusuma Sumantri dan Mr. Ahmad Subarjo. Pada tanggal 9 Agustus 1945 Soekarno dan Rajiman dipanggil oleh Jendral Terauchi, Pada tanggal 12 Agustus sidang pertama PPKI direncanakan pada tanggal 16 Agustus ketiga bangsa Indonesia itu kembali ke Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945.

Akibat bom atom yang dijatuhkan di Kota Hirosima pada tanggal 14 Agustus 1945 pejuang di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah golongan tua yaitu Soekarno Hatta yang para anggtotanya adalah anggota PPKI lainnya. Kelompok kedua adalah golongan muda yang dipelopori oleh Sukarni, Chaerul Shaleh, Adam Malik dan Wikana. Kelompok ini berpendapat bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus dicapai dengan jerih payah bangsa Indonesia dan tidak usah bergantung apalagi diberikan oleh orang lain. Oleh karena itu segala halangan dan janji kemerdekaan dari Jepang harus dilepaskan. Pada malam tanggal 15 Agustus 1945 mengatakan berikut ini :

Soekarno : “Saya tidak berhak berbuat sendiri sebab hal itu adalah hak PPKI yang saya menjadi ketuanya. Alangkah janggal di mata orang jika saya melewati PPKI, yang saya ketuai.”

Wikana : “Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok akan timbul pertumpahan darah.”

Karena adanya perbedaan antara kelompok tua dengan kelompok muda mendorong para pemuda mengambil sikap untuk mengamankan Soekarno dan Hatta ke Rengas Dengklok (Barat laut Kerawang 80 km timur Jakarta). Sikap itu merupakan hasil rapat para pemuda pada pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945 di Jalan Cikini Raya 71 Jakarta yang dihadiri oleh Sukarni, Yusuf Kunto dan Dokter Muwadi.

Tujuan para pemuda mengungsikan Soekarno dan Hatta ke Rengas Dengklok adalah untuk menjauhkan dari segala pengaruh Jepang dalam merencanakan Proklamasi Kemerdekaan. Rencana pengungsian tersebut berjalan lancar setelah Sudancho Singgihmendapat kepercayaan untuk melaksanakan tugas itu. Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 Sukarno dan Hatta dibawa ke Rengas Dengklok. Rengas Dengklok dipilih karena daerahnya terpencil yang cukup strategis untuk pertahanan militer, sehingga memudahkan pemantauan atas tentara Jepang dari berbagai arah. Selain itu di Jakarta telah menjadi kesepakatan golongan tua yang diwakili Mr. Akhmad Subarjo dan diwakili oleh Wikana harus dilaksanakan di Jakarta. Laksamana Tadashi Maeda kepala Perwakilan AL Jepang di Jakarta bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama di rumahnya. Karena ada kesepakatan itu Yusuf Kunto dan golongan pemuda bersedia untuk mengantarkan Mr. Akhmad Subarjo ke Rengas Dengklok untuk menjemput Soekarno –Hatta. Rombongan itu tiba pukul 17.30 WIB.

Rombongan Soekarno Hatta tiba di Jakarta pukul 23.00 WIB. Kemudian langsung menuju ke Rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol I (Rumah tersebut sudah menjadi museum Proklamasi). Dirumah itulah naskah proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno. Naskah Proklamasi disusun di ruang makan Laksamana Maeda, oleh Soekarno, Hatta, Akhmad Subarjo, Sayuti Melik dan Sukarni. Sedangkan tokoh yang lainnya menunggu di serambi rumah Maeda. Sukarno menulis naskah Proklamasi, sedangkan Akhmad Subarjo menyumbangkan pikiran secara lisan tahun 05 pada teks Proklamasi, menyatakan tahun Jepang 2605 yang saat itu digunakan Indonesia. Tahun itu sama dengan 1945 masehi yang mengusulkan agar ditanda tangani oleh Soekarno Hatta adalah Sukarni (Dari golongan muda) di bawah atas nama atribut bangsa Indonesia. Setelah ususl Sukarni disetujui, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetiknya. Setelah selesai merumuskan naskah Proklamasi timbul persoalan tentang bagaimana naskah proklamasi dipersebarluaskan . Upacara Proklamasi kemerkedaan Indonesia dilakukan di halaman rumahnya Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

B). PENYEBARAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI DAN DUKUNGAN RAKYAT

1. Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan RI

Pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB atau pukul 12.00 waktu Tokyo bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, terjadilah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia disaksikan sekitar 1000 orang hadirin., Ir Soekarno membacakan teks bangsa / kemerdekaan bangsa Indonesia dan negara kita di halaman rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta (sekarang jalan Proklamasi). Acara dibawakan oleh Pemandu yang bernama Sudiro. Tepat pukul 10.00 WIB Soekarno tampil ke muka mikrofon untuk membacakan teks proklamasi Kemerdekaan. Pengibaran bendara Merah Putih oleh Sudanto Latief Hendra Nignrat dan Suhud diiringi lagu kebangsaan Indonesia oleh semua yang hadir disamping Soekarno dan Hatta anggota PPKI yang hadir waktu itu adalah Abi Kusno Cokrosuyoso Sukarjo Sutarjo Karthohadikusumo, KH. Wahid Hasyim dan Dokter Rajio Diningrat.

Dengan Proklamasi itu lahirlah bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Setelah upacara pembacaan teks Proklamasi usai, Soekarno berpesan kepada pemuda BM Dian yang bekerja di Kantor Pers Domei (Pusat Pemerintahan Penduduk Jepang) untuk menyebarluaskan berita proklamasi ke seluruh dunia. Para pemuda lainnya bertugas memberitahukan proklamasi kemerdekaan kepada masyarakat luas. Pemberitahuan itu disampaikan melalui Pamflet, radio dan lain-lain yang mudah dijangkau oleh masyarakat . Selain itu berita juga disampaikan dari mulut ke mulut.

Walau dalam kondisi peralatan informasi yang masih serba sederhana/seadanya, nyata sekali hasrat tinggi para pejuang untuk menyebarluaskan berita Proklamasi. Hal ini merupakan cerminan dari heroik para pemuda demi kedaulatan di masa mendatang.

C). PROSES PEMBENTUKAN NEGARA DAN PEMERINTAHAN

1. Sidang PPKI

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, yaitu tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidang pertamanya sidang itu bertujuan antara lain :

a.menetapkan dan mengesahkan Undang-Undang dasar RI dan yang telah direncanakan BPUPKI

b.Memilih Presiden dan Wakil Presiden

c.Membentuk Komite nasional Indonesia Pusat (KNIP)

Sebelum sidang dimulai, Hatta menemui Ki Bagus Hadi Kusuma salah seorang anggota PPKI dari unsur Islam (Muhammadiyah) untuk membicarakan satu masalah penting. Bung Karno menceritakan bahwa pada 17 Agustus sore didatangi oleh Perwira AL – Jepang yang mengaku suara umat Kristen di Indonesia timur. Menurut Perwira Jepang ini, umat Kristen keberatan atas bunyi sila pertama dasar negara : Ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Jika kalimat itu dipertahankan, umat kristen di Indonesia akan memilih berdiri di luar Republik Indonesia. Hatta meminta dengan sangat kepada Ki Bagus Hadi Kusuma agar rela jika kalimat dengan kewajiban menjalankan kalimat kalimat islam kepada pemeluk-pemeluknya dicoret demi persatuan bangsa. Ki Bagus Kusumo mengusulkan agar di belakang kata Ketuhanan ditambahkan anak kalimat yang Maha Esa. Ki Bagus menegaskan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa berarti tauhid. Dan usul itu disetujui oleh Hatta. Dalam sidang BPUPKI pertama kalimas sila pertama diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dan hari itu juga piagam Jakarta disahkan sebagai pembukaan UUD 1945. Sidang PPKI 18 Agustus 1945 secara aklamasi untuk memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Moch. Hatta sebagai wakil Presiden.

Tunggu Sebentar .. Lihat halaman berikutnya pada blog ini Okey … Klik aja tak usah malu…

Iklan

10 responses to “Arena Belajar

  1. DIO ALIF HY 11-547-010-7 IX-A SUDIMORO
    ARENA BELAJAR TIDAK SEHARUSNA DI KELAS SAJA, TETAPI JUGA BISA DI LUAR KELAS.

    MTsN Bangsal
    Luar Biasa
    Alloh Hu-Akbar
    yes……………!

  2. ASKUM bertemu lagi diARENA BELAJAR kalau belajar itu yang asik tapi saya salut dengan mtsn bangsal sukses terus buat mts salut selalu salam dariku LAILUL3B YANG IMUTZ anak SUDIMORO Isthebest ok LOVE YOUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU

  3. Assalamu’alaikum
    saya rasa arena olahraga kurang baik krn ring basketnya hilang satu.fasilitas Lab. kom seharusnya satu anak satu.

    gue,andri dri peno [pemuda sumberwono] p34ceeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!

  4. dio alif hy XI-a 11 547 010 7
    seharus nya lab ipa di pargunakan pelajaran bkn cm buat hiasan

  5. pak kalau ngajar jangan serius amat tolong kalu mengajar tertawa dikit biar anak itu menjadi merasa senang dengan pelajaran bapak/ibu guru

  6. nah saya setuju dengan commentar di atas klo bapak/ibu guru harus memberi sedikit senyuman kepada murid supaya murid² merasa nyaman dan betah dengan pelajaran…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s